Sunday, May 22, 2016

Belajar dari 'Three Young Guns' Tim Thomas Indonesia 2016

Jojo, Ihsan dan Ginting


 Dari mereka saya belajar bahwa pemuda Indonesia tak perlu takut dan khawatir, apalagi kecewa dengan kegagalan meski dalam perjalanannya nanti hal itu akan terjadi dan kita hadapi berkali-kali, karena kegagalan membuat kita berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan kualitas diri dan membuat kita berani berjuang untuk meraih kemenangan-kemenangan yang tak terhitung di masa depan.





Semangat nasionalisme memang bukan lagi barang langka bagi masyarakat Indonesia saat memasuki musim-musim kompetisi Bulu Tangkis dunia, termasuk di ajang Thomas Uber Cup tahun ini. Apalagi, Bulu Tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat digemari masyarakat negeri ini. Biasanya, orang-orang akan berkonsentrasi penuh memberi dukungan kepada Tim Indonesia di ajang internasional melalui berbagai bentuk. Antusiasme masyarakat yang begitu besar pada olahraga ini memang bukan tanpa sebab. Berbagai pertandingan kelas dunia di masa lampau, selalu disebut sebagai sejarah kejayaan perbulutangkisan di Bumi Pertiwi yang patut dipertahankan. Saat itu, Lagu Indonesia Raya kerap dikumandangkan di ajang-ajang bergengsi dengan pemandangan atlet-atlet nasional kita yang sedang tersenyum mengangkat tropi kemenangan.
Namun perjuangan untuk mempertahankan gelar ternyata masih terlampau berat bagi Indonesia. Tim Thomas yang digadang-gadang bisa membawa pulang tropi setelah 14 tahun puasa gelar, ternyata juga belum berhasil di tahun 2016. Sejarah panjang prestasi atlet-atlet nasional yang mengikat generasi muda yang membela skuad Indonesia saat ini tentu  menjadi beban tersendiri bagi para pemain. Namun seharusnya mereka juga tak perlu pesimis. Skuad Merah Putih yang bertanding hari ini (22 Mei 2016), didominasi oleh pemain-pemain muda yang saya saksikan telah berjuang mati-matian melawan Denmark di babak final. Peluang emas merebut kembali Piala Thomas memang di depan mata, namun Tuhan ternyata masih berbaik hati untuk membuat mereka menelan kekalahan dan mau dengan berbesar hati belajar dari kegagalan tersebut.
Ajang Thomas Cup 2016, menjadi debutan beberapa pemain muda khususnya di sektor tunggal putra Indonesia. Kekalahan di final pun tetap menguntungkan bagi para pemain muda Indonesia untuk menambah pengalaman bertanding dengan bertemu lawan-lawan mereka di level dunia. Menurut saya, masuk ke babak final setelah mengandaskan salah satu Tim Thomas unggulan dari Korea Selatan, merupakan suatu prestasi yang luar biasa bagi Tim Thomas Indonesia. Saat menyaksikan partai-partai baik di sektor tunggal maupun ganda sebelum akhirnya ke final, pemain muda Indonesia terlihat cukup percaya diri. Meski bermain di Tiongkok dengan suporter yang tentu saja tidak seheboh di rumah sendiri, Tim Thomas Indonesia selalu berupaya untuk merebut poin demi poin di pertandingan beregu ini dengan mengalahkan negara-negara lain. Indonesia berhasil menjadi juara grup B (Indonesia, India, Hong Kong, Thailand) dan memastikan diri lolos ke perempat final untuk melanjutkan perjuangan mereka. 
Saya pribadi sangat mengapresiasi pencapaian Tim Thomas Indonesia yang berhasil mencapai babak final hari ini. Meski ada beberapa pihak yang mencibir bahwa masuknya Indonesia ke final tak lebih dari keberuntungan semata. Tapi entah kenapa, saya selalu percaya keberuntungan selalu Tuhan berikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berupaya. Artinya, Tuhan tidak akan menghadiahi seseorang yang belum berjuang dengan keberuntungan atau keajaiban, dan saya percaya Tim Thomas Indonesia telah melakukannya.
Dari sektor Tunggal Putra, ada tiga pemain muda yang menarik perhatian saya di ajang Thomas Cup 2016. Gita Wirjawan (Ketua Umum PBSI) kerap menyebut mereka “Three Young Guns”. Mereka adalah Jonatan Christie (18 tahun), Anthony Sinisuka Ginting (19 tahun) dan Ihsan Maulana Mustofa (20 tahun). Jojo, Ihsan dan Ginting menunjukkan permainan terbaik mereka di lapangan. Hingga babak semi final dimainkan, Jojo bahkan tidak sekali pun kalah dari lawan-lawannya ketika berhadapan dengan India, Hong Kong dan Thailand. Ginting yang bermain di tunggal kedua saat berhadapan dengan Korea Selatan bahkan secara mengejutkan menyumbangkan poin bagi Indonesia.  Korea Selatan yang sehari sebelumnya berhasil menundukkan tim raksasa Tiongkok pun kalah dengan skor 3-1 di tangan Tim Thomas Indonesia. 

Sumber: IG @jonatanchristieofficial

Di babak final, Jojo memang tidak dimainkan. Tommy Sugiarto maju sebagai tunggal pertama, Ahsan dan Hendra ada di ganda pertama, Ginting menggantikan Jojo bermain di tunggal kedua, Angga dan Ricky yang memukau saat mengalahkan ganda Korea Selatan bermain sebagai ganda kedua dan Ihsan jadi tunggal terakhir yang membela skuad Indonesia. Setelah tertinggal 1-2 dari Denmark, Indonesia sebenarnya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat kemenangan Angga dan Ricky di partai krusial. Saat itu, saya masih optimis Ihsan akan mampu mengunci kemenangan Indonesia sehingga berhasil membawa Piala Thomas pulang kampung ke Indonesia. Namun sekali lagi, ekspektasi itu belum bisa terpenuhi tahun ini. Ihsan yang merupakan salah satu tunggal putra favorit saya karena kepribadiannya yang bersahaja dan religius masih belum Tuhan takdirkan untuk memenuhi harapan masyarakat Indonesia. Tapi saya yakin, orang-orang yang berupaya dengan sungguh-sungguh dan selalu mengagungkan kebesaran Tuhan di setiap pengharapan dan perjuangan mereka sebagai atlet nasional untuk mengharumkan nama bangsa, akan selalu mendapatkan pertolonganNya. Termasuk dengan kekalahan Tim Thomas Indonesia yang harus rela mengakui keunggulan Denmark hari ini. 


Sumber: IG @ihsanmaulana_m

Sumber: IG @jonatanchristieofficial

Sumber: IG @sinisukanthony

Mungkin berbeda dari para pendukung lainnya yang kecewa dengan kegagalan Tim Thomas merebut kemenangan, saya justru menganggap kekalahan ini merupakan permulaan bagi perjuangan para pemain muda Indonesia untuk kemenangan-kemenangan di masa yang akan datang. Perjuangan “Three Young Guns” di ajang Thomas Cup tahun ini khususnya, memunculkan kembali semangat nasionalisme saya sebagai warga Indonesia. Dari mereka saya belajar bahwa pemuda Indonesia tak perlu takut dan khawatir, apalagi kecewa dengan kegagalan meski dalam perjalanannya nanti hal itu akan terjadi dan kita hadapi berkali-kali, karena kegagalan membuat kita berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan kualitas diri dan membuat kita berani berjuang untuk meraih kemenangan-kemenangan yang tak terhitung di masa depan. Selamat bagi Tim Thomas Indonesia dengan gelar Juara 2 Thomas Cup 2016! Terus berjuang mengharumkan nama bangsa! Buat Indonesia Bangga memiliki tim terbaik seperti kalian. Tak perlu khawatir meski tak sedikit yang memandang sebelah mata, karena cibiran seharusnya memang dijawab dengan prestasi. 



Ketua Umum PBSI, Gita Wirjawan saat menyaksikan Final Thomas Cup 2016 antara Indonesia VS Denmark (Sumber: Facebook Gita Wirjawan)


No comments:

Post a Comment