Monday, May 30, 2016

"Nyawa dan Harapan" Raisa, Sebuah Refleksi Diri Lewat Musik

Sumber: IG @raisa6690

Lirik pada lagu tersebut juga membuat saya teringat pada sebuah presentasi seorang dosen saat menyampaikan mata kuliah “Kajian Budaya dan Media”. Dalam salah satu slidenya, ada sebuah kalimat “Humanity should be our race, love should be our religion.”


“Music really changes a lot of things. Tiba-tiba saya teringat penggalan dialog Dr. Danniel di episode 9 drama “Descendants of The Sun”. Saya pun sepakat, musik memang benar-benar memiliki kekuatan untuk merubah banyak hal. Mendengarkan musik atau lagu, terlebih ketika dilantunkan oleh penyanyi yang saya sukai, ditambah dengan lirik yang tak hanya indah tapi juga syarat makna, menjadikan kegemaran ini bukan sekadar hiburan sambil lalu untuk mengisi waktu.
Ngomongin soal musik, tulisan ini sebenarnya terinspirasi setelah mendengarkan salah satu lagunya Raisa di album “Handmade” berjudul “Nyawa dan Harapan”. Selain karena suara Yaya yang sudah pasti merdu, lagu ini nggak bosen-bosennya saya dengarkan sebagai pengantar tidur karena liriknya yang bisa dijadikan sebagai sebuah refleksi diri.

Saat air lebih langka dari air mata
Saat udara harus kau beli
Saat bunga-bunga tinggal cerita
Akankah akhirnya kita sadari
Saat senyuman lebih langka dari amarah
Saat nyawa nyaris tak berharga
Saat dunia merintih pedih
Akankah akhirnya kita sadari
Akan datang masa di mana kita
Hanya mampu berkeluh dan menyesal
Berharap doa dapat memutar waktu
Percayalah waktu masih tersisa
Percayalah hanya kita yang bisa
Beri nyawa segala harapan
Saat kejujuran sudah tak bersisa
Saat manusia hidup tanpa hati
Saat membeci terasa nyaman
Saling menyakiti terlihat wajar

Saya nggak tahu apa yang ada dalam pikiran Yaya ketika menulis lagu ini. Tapi yang jelas, setiap penggalan lirik dalam lagu ini seolah mencerminkan apa yang tengah terjadi dan dialami umat manusia saat ini. Betapa mudahnya menyebarkan kebencian, manusia jadi mudah murka, dibandingkan saling mengasihi mereka lebih bernaluri untuk saling menyakiti. Lirik pada lagu tersebut juga membuat saya teringat pada sebuah presentasi seorang dosen saat menyampaikan mata kuliah “Kajian Budaya dan Media”. Dalam salah satu slidenya, ada sebuah kalimat “Humanity should be our race, love should be our religion.” Ini karena banyak orang yang mengaku beragama tapi sama sekali tidak mengerti bagaimana cara mencintai sesama. Orang begitu sibuk  mempertengkarkan soal ras dan warna kulit, sampai menuntut mereka untuk berlaku tidak manusiawi.
Menurut saya, “Nyawa dan Harapan” adalah sebuah lagu yang punya tema cinta universal. Mencintai alam dan sesama manusia merupakan keseimbangan yang harus tetap dijaga. Saat air lebih langka dari air mata. Saat udara harus kau beli. Saat bunga-bunga tinggal cerita. Mungkinkah kehidupan umat manusia sudah sampai pada fase ini? Semoga ini sekaligus menjadi pengingat, karena kita tidak mungkin dapat memutar waktu. Lakukan hal kecil apa saja demi mengawali langkah besar kita untuk bisa berkontribusi. Mulai dari hal yang sederhana saja, mari belajar untuk mencintai hidup ini, sehingga kita bisa menghargai segala supporting system yang menyertainya. Thanks Yaya atas karyanya yang indah dan menyentuh!
Di mata saya, Yaya adalah salah seorang musisi yang menjadikan karir bermusiknya bukan sekadar lahan untuk mencari pundi-pundi. Melalui karya-karyanya yang menginspirasi, Yaya telah membawa warna baru di industri musik Indonesia. Selain Yaya, saya juga kerap terpukau dengan karya-karya dari musisi seperti Tulus, Sam Smith dan Meghan Trainor. Menikmati karya mereka membuat saya memahami bahwa bermusik tidak melulu soal mengejar materi dan ambisi untuk meraih popularitas semata. Karena musik adalah media komunikasi, yang di dalamnya bisa terselip banyak makna. Musik yang baik seharusnya tidak hanya mampu menyentuh para pendengarnya, namun juga dapat menggerakkan hati siapa pun penikmatnya agar selalu berpikir dan berbuat sesuatu yang positif.  

No comments:

Post a Comment