Sunday, July 31, 2016

A Melody To Remember: Angel Voices From Orphanage

Sumber: www.koreanfilm.or.kr


         Alunan suara merdu yang dipadu denting piano menjadi tanda bahwa bakat yang dikaruniakan Tuhan kepada anak-anak manusia tak berdosa ini, telah ditakdirkan sebagai penyembuh luka sekaligus harapan akan perdamaian di medan perang. 


       Tak seperti dramanya, kebanyakan film Korea kerap gagal di segala aspek. Meski memasang bintang-bintang papan atas dengan cerita yang lebih humanis, pengalaman menonton film-film dari negeri Ginseng ini hampir selalu mengecewakan. Tapi tidak untuk film yang dibintangi Siwan dan Go Ah Sung. Sebuah film arahan sutradara sekaligus penulis naskah Lee Han  berjudul "A Melody To Remember", rasanya tidak bisa dibilang biasa-biasa saja. 

      Film berlatar perang Korea (Utara dan Selatan) tahun 1950 ini, mengisahkan seorang Letnan Han Sang Yeol (Siwan) yang menemukan kembali jati dirinya di sebuah panti asuhan yang menampung anak-anak yatim piatu korban perang. Han Sang Yeol yang awalnya menjadi pemimpin peleton selama perang berlangsung, tiba-tiba mendapat tugas untuk berjaga-jaga di sebuah panti asuhan yang masih terletak di zona perang. Alasannya, karena anak-anak yang tinggal di panti asuhan itu juga merupakan kelompok paduan suara yang kerap diminta tampil untuk menghibur para tentara. Kecintaan sang letnan pada musik dan kemampuannya bermain piano membuatnya dianggap paling tepat untuk mendampingi Kepala Panti asuhan bernama Park Joo Mi yang diperankan oleh Go Ah Sung.


       Terbiasa berperang menghadapi musuh, Han Sang Yeol tak merasa nyaman ketika hidupnya harus dikelilingi anak-anak. Hingga suatu saat, pertemuannya dengan dua kakak beradik Dong Goo (Jung Joon Won) dan Soo Yi (Lee Re) membawa ingatan Han Sang Yeol pada kematian sang adik (Kim Hyang Gi) yang juga menjadi korban perang. Di saat yang bersamaan, Dong Goo dan Soo Yi berhasil menyembuhkan luka lama sang Letnan akibat kematian sang adik. 



Sumber: fims.kofic.or.kr

      Han Sang Yeol yang tadinya bersifat dingin dan cenderung apatis pun akhirnya melunak. Ia menjadi sangat peduli pada anak-anak panti asuhan yang beberapa di antaranya (termasuk Dong Goo dan Lee Ree) masih menjadi korban eksploitasi oleh oknum bernama Galgori (Lee Hee Joon). Sang letnan pun tidak akan berkompromi dengan siapa pun yang mengancam keselamatan anak-anak panti asuhan. 



Sumber: www.hancinema.net

       Sifat dasar Han Sang Yeol yang penyayang, berlahan mulai timbul di tengah-tengah kehidupannya sebagai pemimpin paduan suara. Meski berseragam militer, ia sekalipun tak pernah merasa canggung tampil bersama anak-anak panti asuhan bernyanyi di Gereja, berpindah-pindah tempat dari satu barak tentara ke barak tentara lainnya. Begitu seterusnya hingga perang berakhir di tahun 1953. 




Sumber: fims.kofic.or.kr

       "A Melody To Remember" tidak hanya membuat penonton menguras air mata karena mengisahkan cerita pedih anak-anak yatim piatu yang menjadi korban perang, film ini pun tak banyak menyinggung sejarah pecahnya perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Film yang naskahnya ditulis oleh writer debutan Lee Woo Tak ini justru menyuguhkan pesan bahwa harapan untuk tetap hidup berdampingan dengan orang-orang tersayang, harapan untuk bersenang-senang dan harapan untuk membuat orang lain bahagia seharusnya tidak boleh pupus meski hidup di tengah-tengah situasi perang. Alunan suara merdu yang dipadu denting piano menjadi tanda bahwa bakat yang dikaruniakan Tuhan kepada anak-anak manusia tak berdosa ini, telah ditakdirkan sebagai penyembuh luka sekaligus harapan akan perdamaian di medan perang. 

       "A Melody To Remember" rilis di Korea pada 21 Januari 2016 lalu. Saya sendiri baru menyaksikannya tadi malam. Film ini layak ditonton dan diapresiasi sehingga saya memutuskan untuk menulis reviewnya dalam postingan ini. Di samping akting para aktor utamanya yang memukau, film ini cukup menghibur, terutama bagi saya yang termasuk penikmat choir. Selain itu, film ini juga based on true event. Bagi saya pribadi, film-film yang diangkat dari kisah nyata selalu berhasil menimbulkan "greget effect" (maafkan diksi saya yang kelewat ngaco). Tapi jangan salah, film-film yang sukses di ajang Academy Awards dengan membawa pulang banyak Piala Oscar, kebanyakan juga film-film yang diadaptasi dari true event.



     Nah, untuk teman-teman yang tertarik menyaksikan "A Melody To Remember" setelah membaca review ini, bisa mengunduh filmnya di sini. Sayang banget, di situs itu subtitlenya belum tersedia. Tapi nggak papa, saya nemu subtitlenya di sini"A Melody To Remember" yang ada di situs subscene.com berjudul "Thinking of My Older Brother". Subtitle yang tersedia hanya bahasa Inggris, itu pun belum sempurna dan satu-satunya. Tapi tenang aja, walaupun ada banyak kalimat yang tidak diterjemahkan secara sempurna, kita masih bisa memahami esensi filmnya secara keseluruhan. Selamat menonton!




No comments:

Post a Comment