Friday, August 26, 2016

Tentang Musa, Owi/Butet dan Rio Haryanto

Musa La Ode Abu Hanafi sebenarnya tak butuh disebut sebagai pahlawan, tak butuh namanya dielu-elukan media, tak butuh bonus-bonus materi bernilai miliaran rupiah, tak butuh apresiasi masyarakat apalagi negara, karena sebagai seseorang yang dekat dan mengenal Tuhan, serta menghafal firman-firman-Nya, Musa tak lagi butuh hal-hal yang bersifat keduniawian seperti itu meski usianya yang saat ini baru menginjak 8 tahun. 


Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah tautan menarik yang dibagikan beberapa teman melalui laman Facebook. Tautan ini pula yang membuat saya tertarik untuk menulis postingan ini. Isi dari tautan tersebut secara garis besar menggambarkan porsi pemberitaan media yang selama ini tidak seimbang atau yang disebut penulis telah menganaktirikan berita tentang kemajuan Islam. 

Dalam tautan tersebut, muncul nama-nama seperti Owi/Butet, pasangan ganda campuran cabang olahraga Bulutangkis yang baru saja meraih medali emas dari ajang Olimpiade Rio 2016, ada Rio Haryanto, pebalab muda Indonesia yang pernah mencicipi berlaga di ajang Formula 1, dan ada pula Musa La Ode Abu Hanafi, hafiz cilik yang pada April 2016 lalu berhasil menyabet juara ketiga di final Musabaqah Hifzil Quran International di Mesir.

Keempat nama-nama di atas sama-sama telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia, namun yang berbeda menurut penulis adalah porsi pemberitaan media yang sangat minim atas perjuangan dan kegigihan Musa dibandingkan pemberitaan tentang Owi/Butet atau Rio Haryanto. Tak seperti Owi/Butet dan Rio Haryanto, tak ada gelar pahlawan yang dilekatkan media pada Musa. Selain itu, tak ada peranan atau apresiasi dari negara yang cukup berarti untuk Musa dibandingkan Owi/Butet yang diarak keliling jalanan ibu kota sebagai bentuk selebrasi keberhasilan mereka mempersembahkan emas olimpiade. Tak ada pula bonus 5 milar dan tunjangan hari tua senilai 20 juta per bulan seumur hidup untuk Musa seperti yang diterima Owi/Butet. Juga tak ada dukungan finansial dari negara melalui Pertamina dan Garuda Indonesia yang disebut penulis mencapai 15 juta euro (sekitar 225 milliar) untuk Rio Haryanto sejak membalap di F1. 

Postingan ini sama sekali tidak bermaksud untuk membuat siapa pun yang sependapat dengan tautan tersebut menjadi berubah pikiran, hanya saja izinkan saya untuk meluruskan beberapa hal menurut apa yang telah saya baca atau pun yang saya peroleh dari mengonsumsi pemberitaan di media. Ada pula beberapa sudut pandang pribadi yang saya tuliskan dalam postingan ini. 

Pertama, soal selebrasi dan bonus miliaran rupiah dari pemerintah untuk kemenangan Owi/Butet di Olimpiade Rio 2016. Owi/Butet merupakan satu-satunya atlet Indonesia yang menyumbangkan emas olimpiade untuk Indonesia, pasangan ganda campuran ini juga terhitung cukup senior dan kerap meraih titel tertinggi di kejuaraan Bulutangkis dunia. Olimpiade Rio merupakan olimpiade terakhir Butet yang disebut-sebut tak lama lagi akan gantung raket atau pensiun dari dunia perbulutangkisan Indonesia. Saya kira, itulah beberapa alasan yang membuat kemenangan mereka menjadi highlight di berbagai media. 

Kedua, soal bonus 5 miliar dan tunjangan hari tua bernilai puluhan juta per bulannya untuk atlet berprestasi, saya teringat kembali dengan tautan berita yang juga menjadi viral di media sosial belum lama ini. Tentang mantan atlet yang kini menjadi buruh cuci. Berita ini sontak menjadi buah bibir dan seperti biasa, menjadi kesempatan bagi siapa pun untuk ngata-ngatain pemerintah. Ada baiknya media memblow up tentang bonus atau jaminan hari tua yang akan diterima para atlet berprestasi sebagai bentuk apresiasi negara bagi siapa saja yang berhasil mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Bukankah hal ini sekaligus menjadi pertanda bahwa ada usaha dari pemerintah agar tidak ada lagi atlet-atlet yang bernasib sama seperi Leni Haini, mantan juara dunia yang kini justru memiliki kesulitan finansial. 

Ketiga, mau diapakan bonus 5 miliar yang diterima Owi/Butet? Pertanyaan ini juga kerap muncul di media. Owi sendiri telah berencana untuk memberangkatkan keluarganya ke tanah suci untuk melakukan ibadah Umrah, sesuai nazarnya ketika berhasil menyabet emas di Olimpiade Rio. Melalui media, setidaknya masyarakat Indonesia pun bisa berpikir positif bahwa uang miliaran rupiah yang diterima atlet berprestasi seperti Owi, juga bisa dimanfaatkan di jalan Tuhan. 

Keempat, soal dukungan finansial dari negara senilai 15 juta euro untuk Rio Haryanto. Beberapa media di setiap pemberitannya selalu menyebut Rio Haryanto sebagai pay driver yang bergabung di Tim Manor Marussia dalam ajang balap F1. Itu artinya, Rio wajib membawa sponsor dengan nominal tertentu kepada timnya. Rio pun dibebani dengan nominal mencapai 15 juta euro atau setara dengan Rp 220 miliar. Faktanya, Rio dan pihak manajemen hanya mampu membayar 8 juta euro dengan rincian 5 juta euro dari Pertamina, sementara 3 juta euro dari pihak Kiky Sport. Artinya, negara melalui Pertamina hanya menyokong 5 juta euro untuk Rio Haryanto agar bisa berlaga di F1 selama satu musim penuh. Seiring berjalannya waktu, media pun cukup fair dalam memberitakan aksi Rio dari musim ke musim selama berlaga di ajang Formula 1. Meski di awal banyak media yang menyorot keberhasilan Rio Haryanto menjadi pebalab F1, namun media juga cukup fair dalam memberitakan aksi Rio di ajang tersebut. Mulai dari ulasan performa Rio yang kurang memuaskan hingga pemutusan kontrak oleh Tim Manor akibat ketidaksanggupan Rio dan manajemennya untuk memenuhi kewajiban sesuai kontrak yang telah disetujui

Kelima, soal perjuangan spiritual Rio menuju F1. Media tidak hanya gembar-gembor soal jejak rekam prestasi Rio di ajang balap hingga berhasil membuat debutnya di ajang Formula 1. Di samping itu, media juga kerap memberitakan upaya-upaya yang telah dilakukan Rio sebagai umat muslim yang taat dan percaya akan kekuatan doa demi mewujudkan impian terbesarnya sebagai pebalap F1. Melalui media, masyarakat menjadi tahu sisi lain dari Rio Haryanto yang religius.  Tak sedikit pula media yang berbicara soal kebiasaan Rio mengerjakan shalat Tahajud dan membaca Surat Yasin. Bahkan di bagian kanan kokpit mobil balapnya tertempel kertas berisi penggalan surat Al-Baqarah ayat 255 (ayat kursi).

Keenam, soal pemberitaan media yang tidak memihak pada kemajuan Islam. Saya tidak sepenuhnya setuju meski juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya. Faktanya, nama Musa La Ode Abu Hanafi juga menjadi sorotan media setelah keberhasilannya meraih juara pertama pada program Hafiz Indonesia 2014 di salah satu stasiun televisi swasta. Meski tidak diarak keliling ibu kota atau diberi sokongan dana 5 juta euro, Presiden RI tetap bangga dan sangat mengapresiasi torehan prestasi Musa yang mendunia. Meski tidak mendapat bonus miliaran rupiah dan diberitakan media secara heboh, apa yang dilakukan Owi/Butet dan Rio Haryanto tidak ada apa-apanya dibandingkan kegigihan Musa dalam menghafal dan melantunkan firman-firman Tuhan dengan suara yang indah. Lagipula, apresiasi manusia atau negara tetap tidak akan mampu mengungguli apresiasi yang akan diberikan Tuhan kepada seorang anak yang sudah menghafalkan 29 juz Al Qur'an sejak usianya 5,5 tahun. 

Dalam postingan ini, saya juga ingin berbaik sangka bahwa Musa La Abu Ode Hanafi sebenarnya tak butuh disebut sebagai pahlawan, tak butuh namanya dielu-elukan media, tak butuh bonus-bonus materi bernilai miliaran rupiah, tak butuh apresiasi masyarakat apalagi negara, karena sebagai seseorang yang dekat dan mengenal Tuhan, serta menghafal firman-firman-Nya, Musa tak lagi butuh hal-hal yang bersifat keduniawian seperti itu meski usianya yang saat ini baru menginjak 8 tahun.  

Saya secara tulus memohon maaf jika di dalam postingan ini terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati siapa pun yang membacanya. Saya juga meminta maaf jika ada beberapa sudut pandang  yang tentu tidak bisa membuat semua orang puas dan sependapat. Terakhir, saya juga meminta maaf jika ada kesalahan dalam penyebutan nama atau pun ada fakta-fakta dan data-data yang saya tampilkan dalam postingan ini yang keliru. Hal itu semata-mata kesalahan dan kecerobohan saya.

No comments:

Post a Comment