Sunday, October 16, 2016

"Me Before You", Tear Jerking or Happy Ending?


Sumber Foto: imdb.com

If you have sincerity of love to someone, it doesn’t mean you wont ever lose him/herIf you really love someone, it doesn’t mean you deserve to make him/her to stay beside you.


Thanks to ILOOK NET.TV yang dalam salah satu segmennya bikin “5 LOU’s STYLES in Me Before You”. Segmen ini bikin saya penasaran banget sama film “Me Before You” dan karakter Louisa Clark (Emilia Clarke) yang punya dandanan super nyentrik from head to toe.

Sumber Foto: mebeforeyoumovie.com

Film Produksi New Line Cinema ini sebenernya udah rilis sejak Juni 2016. Poster filmnya pun udah  familiar banget karena selalu nongol di playlist kalau ngeplay lagunya Ed Sheeran yang Photograph. Salah satu british singer ini memang mengisi scoring dalam film “Me Before You”. Tapi saya sendiri baru ngeh setelah nonton filmnya. Oiya, kalau mau tahu transformasi Neville Longbottom (Harry Potter) yang sekarang  katanya jadi keceee badaiii juga bisa dilihat di film ini. Matthew Lewis memerankan Patrick, kekasih Lou. Tapi kalau menurut saya sih sebenernya biasa aja(hehe).  

Sumber Foto: mebeforeyoumovie.com

Kalau di postingan ini mau ngomongin panjang lebar soal jalan ceritanya, kayanya udah basi banget. Secara ini udah Oktober dan filmnya udah tayang empat bulan yang lalu. Jadi, saya cuma mau sharing sedikit tentang experiences apa aja yang saya dapat saat menonton film bergenre romantis ini.
“Me Before You” made my weekend frankly!!! Apa pun yang saya suka kok kayanya ada semua di film ini. Mulai dari Inggris yang memang menjadi setting “Me Before You”, aksen british aktornya di setiap dialog, scene turun salju, scoringnya yang berhasil membangun suasana melankolis dan yang paling menarik perhatian adalah sepatu-sepatu lucu koleksi Louisa Clark.
To be honest, karakter Lou ini bikin saya keinget sama Diana Rikasari, seorang fashion blogger favorit saya sejak tahun pertama di bangku kuliah dulu. Karakter Lou pun merefleksikan seorang Diana Rikasari yang berani tampil beda dengan fashion item yang yang bikin dia kelihatan nyentrik. Nggak peduli orang memandang itu something ridiculous. Since being different is blessing, just be yourself! Diana Rikasari juga punya brand sepatu yang kalau dilihat dari warna dan modelnya nggak jauh beda sama koleksi sepatunya Lou. Brand sepatunya bisa dilihat di sini.
Selain dimanjain secara visual dengan wardrobe pemeran utamanya, film ini juga berhasil bikin ending yang unpredictable, which is very reasonable to finish. Menurut saya, film yang diadaptasi dari novel Jojo Moyes ini cukup punya statement untuk kasih penonton sebuah pengalaman yang berbeda saat menyaksikan sebuah film bergenre romantis tapi nggak bikin kedua pemeran utamanya happily ever after (hidup bahagia bersama selamanya). Sebuah pengalaman yang juga saya dapetin waktu nonton ”The Fault in Our Stars” yang punya sedikit kesamaan tema cerita dengan “Me Before You”.  Sebelum menyaksikan kedua film tersebut, penonton pasti udah bisa nebak ít’s gonna be tear jerking movie! Tapi yang nggak ketebak adalah bagaimana penonton dibuat berubah pikiran dari yang awalnya menyangka film ini bakal sad ending jadi happy ending dengan sebuah statement yang nggak ada di kebanyakan film dengan akhir yang indah.
”Me Before You” secara nggak langsung membuat penonton memaknai kebahagiaan dan cinta dengan cara yang berbeda. If you have sincerity of love to someone, it doesn’t mean you wont ever lose him/her. If you really love someone, it doesn’t mean you deserve to make him/her to stay beside you. Love is not the same as acceptance. Karena terkadang penerimaan justru membuat seseorang merasa gagal untuk memberikan kebahagiaan seutuhnya pada pasangan mereka. Terlepas dari semua interpretasi saya terhadap film ini, yang jelas saya dapet quotes paling menarik dari film ini, yang simple tapi ngenak banget:
You Can't Change Who People are
Meskipun Lou punya cinta yang tulus untuk Will (Sam Claflin) dengan segala keterbatasannya, itu nggak membuat Will berubah pikiran untuk tetap mengakhiri hidupnya. Bukan karena Will tidak merasakan ketulusan Lou, tapi mungkin karena Will nggak mau kisah cintanya berakhir seperti Stephen Hawking (“The Theory of Everything”). Penerimaan bukan tidak mungkin membuat seseorang berubah suatu saat nanti. Penerimaan bukan jaminan kesetiaan sehidup semati. Will memilih mati untuk memiliki Lou yang abadi dalam ingatan dan kenangan terakhirnya di atas ranjang sebuah kamar di Swiss.
Kekuatan cinta ternyata tidak selamanya membuat seseorang bisa survive dengan hidupnya yang serba terbatas. Atau cinta justru bisa memberi kekuatan pada seseorang untuk ikhlas melepaskan. Di saat bersamaan, cinta juga mengajarkan arti sebuah penerimaan, it’s not literally acceptance! Tapi menerima bahwa keterbatasan mungkin salah satu cara Tuhan untuk membuat manusia tidak serakah untuk memiliki semua yang mereka cintai.

Sumber Foto: mebeforeyoumovie.com

Will mencintai the old him, dirinya yang enerjik dan hobi bermain ski. Menjadi lumpuh lalu dipertemukan dengan Lou yang berhasil membuatnya tertawa lagi, tak lantas membuat Will membatalkan kontrak dengan sebuah organisasi bunuh diri di Swiss. Ini mungkin menjadi bagian tersulit yang bisa diterima penonton yang menyaksikan ”Me Before You”. Kedengarannya memang tidak masuk akal, tidak manusiawi dan hanya ada dalam cerita-cerita fantasi. Tapi sekali lagi, setiap orang pasti punya interpretasi yang berbeda-beda setelah menyaksikan film ini, itu wajar dan sangat natural.



Sumber Foto: mebeforeyoumovie.com

Buat yang belum pernah nonton "Me Before You", maaf kalau spoiler! Tapi saya tetap berharap setelah membaca postingan ini sampai akhir, kalian tetep penasaran mau nonton filmnya. Sama kaya rasa penasaran saya dengan reaksi dan pendapat kalian dengan ending film ini. 

Intip juga trailernya di sini: 







No comments:

Post a Comment