Thursday, October 27, 2016

Sang Gajah, Seniman yang Penuh Filosofi dan Rendah Hati

A photo posted by Tulus (@tulusm) on


Tulus dan musiknya yang antimainstream selalu berhasil menghibur dan menginspirasi pendengarnya. Lirik-lirik lagunya yang tak biasa namun tetap bisa dicerna, menjadikan Tulus pilihan kedua yang pertama.

Menurut saya, belum ada penyanyi Indonesia yang sefilosofis Tulus. Saya masih ingat betul ketika dua tahun lalu Tulus tampil di sebuah acara musik televisi, ia bercerita tentang mengapa memilih Palawija sebagai nama tumblrnya. Menurut pemikiran pelantun "Gajah" ini, Palawija adalah makanan lain selain nasi. Tulus yang mengasumsikan Palawija sebagai makanan kedua memiliki pemikiran bahwa terkadang dengan sengaja menjadikan diri sendiri sebagai pilihan kedua itu justru memberikan sesuatu yang lebih menyenangkan dibandingkan terus-terusan memaksakan diri untuk menjadi pilihan yang pertama. 

Implementasi dari filosofi tersebut mungkin bisa dilihat dari karya-karya Tulus dalam bermusik dan bagaimana penggemar mengapresiasinya. Tulus dan musiknya yang antimainstream selalu berhasil menghibur dan menginspirasi pendengarnya. Lirik-lirik lagunya yang tak biasa namun tetap bisa dicerna, menjadikan Tulus pilihan kedua yang pertama. Tulus berhasil menemukan karakternya dalam bermusik dan tetap dicintai para penggemar, yang menyebut diri mereka Teman Tulus.

Seperti namanya, he really put sincerity in music, yang ia kejar bukan popularitas menjadi penyanyi ternama, bukan pula penghargaan dan banyak undangan manggung di  acara televisi dan off air. Namun bermusik karena memang memiliki bakat dan passion pada bidang tersebut. 

Alasan kedua mengapa saya menyebut Tulus sebagai seniman yang sangat filosofis adalah karena alasannya memilih arsitektur sebagai bidang yang ia pelajari saat menempuh pendidikan di bangku kuliah dulu. Menurut pemilik nama lengkap Muhammad Tulus ini, arsitektur merupakan ibu dari segala ilmu seni. Dalam sebuah acara talkshow, Tulus juga pernah mengungkapkan bahwa proses kreatif di bidang arsitektur itu ternyata sangat menyenangkan. Sedikit banyak, arsitektur pun mempengaruhi alumnus Universitas Katolik Parahyangan tersebut dalam bermusik. 

Di salah satu akun media sosialnya yakni di Instagram, Tulus menuliskan bio singkat "Saya sedang kembali ke tahun sembilan tujuh." Ini juga bukan tanpa alasan. Tahun '97 merupakan fase hidup terindah yang Tulus jalani ketika tinggal di sebuah kota kecil di Bukit Tinggi 19 tahun silam. Penyanyi yang kerap berduet dengan Raisa ini pun kerap menyatakan keinginannya untuk bisa kembali ke masa-masa indah itu. 

Yang membuat saya semakin yakin lagi, Tulus selalu memasukkan banyak filosofi-filosofi unik baik dalam judul maupun lirik lagu yang ada di ketiga albumnya. Yang terbaru adalah "Monokrom". Album ini menjadi album favorit saya. Hampir semua lagu yang ada dalam album ini menginspirasi saya dalam banyak hal di hidup ini. Tentang kerja keras, hubungan dengan sesama manusia, tentang kebutuhan untuk menjadi seseorang yang dibutuhkan untuk orang lain serta upaya untuk tidak membebani orang lain dengan alasan kita untuk menjadi kuat, berhasil dan bahagia. 

Termasuk ketika Tulus juga bersemangat menceritakan proses pembuatan video klip "Ruang Sendiri" yang menjadi single kedua dalam album Monokrom setelah lagu "Pamit" menjadi sangat hits. Yang paling saya salut adalah bagaimana Tulus dengan pemikirannya yang sangat jenius, memilih Melati Suryodarmo menjadi model video klip "Ruang Sendiri". Melati Suryodarmo adalah seorang seniman performance asal Solo yang mulai berkecimpung di dunia seni rupa pada tahun 1994, dengan fokus belajar pada bidang studi Konsep Ruang dan Performance Art di Hochschule fuer Bildende Kuenste Braunscweig (HBK), Jerman.  

Dalam caption sebuah foto di Instagram Tulus, ia menuliskan:

Saya banyak belajar lewat proses pembuatan klip "Ruang Sendiri". Menarik sekali melihat bagaimana lirik dan melodi, diterjemahkan lewat gerak, ekspresi dan energi penjiwaan yang dalam oleh seorang pelaku seni 'performance'.
Saya sangat berterima kasih untuk waktu, ruang serta energi tubuh yang Melati Suryodarmo berikan dengan rendah hati untuk video musik ini. Melihat langsung proses pengambilan gambar hingga memantau hasilnya di dalam kamera dan layar, saya kemudian semakin paham, mengapa Beliau begitu megahnya di dunia seni rupa. Terima kasih untuk tim Embara Film yang jeli menangkap momen demi momen.

Selamat menikmati video klipnya di sini:


  



P.S: TO BE FRANK, keinginan menulis postingan hari ini sebenarnya bermula saat saya ditemani musik Tulus berjudul "Manusia Kuat" di sela-sela menyempurnakan proposal tugas akhir menjelang presentasi minggu depan. Saya ingin bercerita banyak tentang interpretasi pribadi saya setelah mendengarkan lagu tersebut. Tapi malah jadi kemana-mana tulisannya. Saya janji di postingan berikutnya saya akan tuliskan banyak lagi alasan mengagumi karya-karya pria tambun ini lewat lagu berjudul "Manusia Kuat".

No comments:

Post a Comment