Sunday, December 4, 2016

"Me Before You" dan Dignitas, Pemicu Maraknya "Wisata Bunuh Diri" di Swiss?

Sumber Foto: www.catholicherald.co.uk


وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29).



To live with dignity-to die with dignity. Begitulah slogan sebuah organisasi bunuh diri  di Swiss yang menamai diri mereka Dignitas. Organisasi tak lazim ini berdiri sejak 17 Mei 1998 atas inisiasi seorang pengacara spesialis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Swiss bernama Ludwig Minelli. Dignitas merupakan organisasi nirlaba yang legal menurut konstitusi federal Swiss. 

Klien yang mempercayakan ajal mereka pada organisasi yang juga didirikan di Kota Zurich, Jerman ini datang dari seluruh penjuru dunia. Teman-teman mungkin masih ingat dengan kisah Will yang diperankan Sam Claflin dalam film "Me Before You". Sebuah kecelakaan yang dialami Will telah mengubah hidupnya seketika. Will memang beruntung kecelakaan tersebut tidak berhasil merenggut nyawanya namun membuat hampir seluruh anggota tubuhnya tidak berfungsi. Hingga pada suatu saat Will pun memutuskan untuk menandatangani kontrak kematiannya pada sebuah organisasi bunuh diri di Swiss. 

Organisasi bunuh diri yang ada dalam film adaptasi novel Jojo Moyes ini ternyata memang benar ada di kehidupan nyata. Ketika pertama kali membuka website resmi Dignitas, tak bisa dipungkiri saya pun sempat merasa merinding. Sebelum menyaksikan "Me Before You" saya tidak pernah sekali pun membayangkan ada sebuah organisasi yang akan membantu manusia untuk menemui ajal mereka tanpa rasa sakit. 


Sumber Foto: i.telegraph.co.uk

Awalnya Dignitas hanya diperuntukkan bagi para lansia yang mengidap sakit keras berkepanjangan dan hampir dipastikan tidak memiliki harapan untuk hidup meski telah menerima perawatan dan pengobatan yang optimal dari para tenaga medis. Namun seiring perkembangannya, begitu banyak tuntutan yang dilayangkan pada organisasi ini untuk membuka keanggotaan bagi orang-orang yang mengalami gangguan psikologis dan para penyandang cacat seumur hidup yang merasa hidup mereka sudah tidak berguna lagi. 

Dignitas selalu membuat para kliennya percaya bahwa mereka juga memiliki hak untuk mati dengan terhormat termasuk dengan cara bunuh diri dengan meminta bantuan pihak kedua. Meski begitu, mengakhiri hidup dengan menjadi klien Dignitas ternyata tidak semudah ketika seseorang memutuskan untuk gantung diri, loncat dari gedung bertingkat atau minum sebotol racun. Ada beberapa rangkaian prosedur serta dokumen yang harus dilengkapi seorang klien. Seperti dengan cara mengirimkan salinan catatan medis untuk meyakinkan berbagai pihak bahwa sang klien memang "pantas" mati.


Lalu bagaimana cara ajal menjemput para klien Dignitas?

Tak banyak yang menyangka bukan sebuah bangunan bercat biru di atas banyak didatangi orang dari berbagai belahan dunia untuk merencanakan tanggal atau hari kematian mereka. Lebih dari sekadar apartemen sewaan, terdapat sebuah kamar dalam bangunan tersebut yang akan digunakan para klien Dignitas untuk menghabiskan waktu terkahir mereka di dunia. Tidak hanya datang sendiri, para klien ini bahkan ditemani orang-orang tercinta menjelang detik-detik terakhir mereka meregang nyawa.


Sumber Foto: Me Before You Movie


Jika tidak dengan eutanasia, para klien biasanya diminta untuk menenggak Sodium Pentobarbital dengan dosis tertentu. Setelah meminumnya, dalam waktu dua sampai lima menit, klien akan tidaksadarkan diri dan mulai memasuki kondisi koma. Tak lama berselang, efek dari Sodium Pentobarbital akan mulai bekerja dan dalam sekejap melumpuhkan pusat pernafasan klien sehingga menyebabkan kematian. Dignitas mengklaim bahwa proses ini benar-benar bebas risiko karena menjamin klien meregang nyawa tanpa rasa sakit. 

Berapa biaya yang harus dikeluarkan klien Dignitas untuk mati dengan terhormat?

Proses bunuh diri dengan jaminan tanpa rasa sakit ini menelan biaya sekitar £5.000 (Rp80juta). Sementara untuk biaya keseluruhan layanan dari konseling hingga pemakaman mencapai £7.000 (sekitar Rp112juta). 

"Me Before You" sebagai Kampanye Terselubung tentang Keberadaan Organisasi Bunuh Diri di Swiss?

Sebelum postingan ini, saya pernah menulis postingan berjudul "Me Before You", Tear Jerking or Happy Ending? Awalnya saya menyangka film ini benar-benar menyuguhkan alur cerita yang tidak tertebak oleh penontonnya. Kehadiran Lou (Emilia Clark) sebagai pelipur lara dalam kehidupan Will tentunya akan berhasil membuat Will mengurungkan niatnya untuk membatalkan kontrak dengan salah satu organisasi bunuh diri di Swiss (mungkin merujuk ke Dignitas). Tapi nyatanya tidak, Will tetap bersikeras untuk mengakhiri hidupnya. Pesan moral yang saya tangkap ketika itu adalah cinta memang bukan perkara sederhana yang dengan mudah mampu mengubah pendirian seseorang. Saya pun dengan "berat hati" beranggapan bahwa cinta memang bukan persoalan "penerimaan". 

Tetapi setelah membaca beberapa artikel mengenai keberadaan Dignitas, saya mulai bertanya-tanya lagi. Apa mungkin film ini memang sengaja dibuat untuk mengkampanyekan keberadaan organisasi bunuh diri yang legal di Eropa? Mengingat Will sendiri diceritakan sebagai warga negara Inggris yang harus jauh-jauh terbang ke Swiss untuk menjemput ajalnya di sebuah organisasi bunuh diri. Faktanya, klien Dignitas memang paling banyak berasal dari Inggris. 

Kota Forch di Swiss, tempat di mana organisasi Dignitas berdiri bahkan telah lama dijuluki sebagai destinasi wisata bunuh diri. Lalu bagaimana dengan pamor organisasi ini setelah film "Me Before You"? Apakah film bergenre romantis ini turut menjadi pemicu maraknya "Wisata Bunuh Diri" di Swiss? Entahlah. 

Jika ditanya soal pendapat saya tentang aksi bunuh diri atau keberadaan organisasi yang mewadahi orang-orang dari seluruh penjuru dunia yang ingin mengakhiri hidup mereka dengan beberapa alasan, statement saya cukup diwakili oleh penggalan ayat 29 Surat An Nisa' yang ada di awal postingan ini. 





No comments:

Post a Comment