Thursday, February 9, 2017

Sebelum Tergila-gila dengan "La La Land", Kamu Wajib Nonton 2 Film Musikal Jaman Baheula Ini




Dibandingkan film-film Marvel yang bertema superhero, atau film-film fantasi lainnya yang sangat  mengandalkan visual effect, film musikal bisa saja kalah pasar. Penonton tentu lebih memilih beramai-ramai pergi ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan kisah Tony Stark atau Steve Rogers daripada harus bayar mahal untuk duduk bosan selama kurang lebih dua jam cuma buat dengerin orang nyanyi dari awal sampai film selesai. 

"Ke bioskop kan buat nonton film, bukan buat nonton konser."



Jadi nggak heran kalau film-film musikal jarang dibuat untuk kepentingan komersil. Beberapa memang ada yang diputar di bioskop sih, tapi sebentar juga bakal turun layar. 

Ngomongin soal film musikal, udah ada yang nonton "La La Land"? Dibintangi Ryan Gosling dan Emma Stone, film yang berhasil menyabet 7 penghargaan di ajang Golden Globe 2017 ini memang cukup fenomenal. "La La Land" banyak menjadi headline pemberitaan di sejumlah media, apalagi film produksi Summit Entertainment ini selalu berhasil masuk nominasi untuk sejumlah ajang penghargaan bergengsi bagi insan perfilman hollywood termasuk di ajang Oscars 2017 yang akan dihelat 26 Februari nanti. 

Digarap apik oleh sutradara muda, Damien Chazelle, "La La Land" berhasil mendapat tempat di hati penonton. Meski secara keuntungan penjualan, film ini masih kalah dibandingkan "Hidden Figures". 

Saya sendiri termasuk salah satu orang yang menyukai hampir semua genre film, termasuk musikal tentunya. Salah satu news anchor favorit saya, Marissa Anita pernah merekomendasikan "La La Land" di Twitter dan Instagram pribadinya, mulai dari situ saya akhirnya tertarik untuk menonton filmnya. Selain itu, karena saya juga suka dengan para pemainnya. Ini bukan kali pertama Ryan dan Emma dipasangkan dalam sebuah film, jadi chemistry keduanya sudah nggak perlu ditanya lagi. 

Satu hal yang membuat saya benar-benar terhibur dalam film tersebut, justru bukan karena pemain atau plot ceritanya. Melainkan lagu-lagu yang dinyanyikan di sepanjang film, terutama apa lagi kalau bukan "City of Stars". 

Film ini mengisahkan tentang Mia (Emma Stone) yang keukeh banget pengen jadi aktris ternama dan Sebastian (Ryan Gosling) seorang musisi yang bermimpi besar memiliki sebuah klub jazz suatu saat nanti. Tragisnya, mereka dipersatukan saat sedang merintis karier masing-masing namun terpaksa harus berpisah ketika impian keduanya berhasil terwujud. 

Setelah nonton film ini, saya jadi penasaran nonton film-film musikal lainnya. Selain Horror, musikal termasuk genre film yang sangat amat jarang saya tonton, kecuali animasi Disney yang kebanyakan memang bertema musikal. Film berikutnya yang saya tonton adalah "Into The Woods" yang dibintangi Meryl Streep 

Saya jadi keinget film musikal yang pernah saya tonton juga di Jogja Asian Film Festival November tahun lalu. Memang nggak bisa dibandingkan langsung dengan "La La Land", tapi jujur saya sih  lebih suka dengan Master Piece Usmar Ismail yang satu ini. 


1. Tiga Dara (1956)


Sumber:cdn.klimg.com

Saya nonton film ini sebenarnya tanpa disengaja. Niat awal datang ke Empire XXI hanya untuk nonton "Prenjak" (In The Year of Monkey"). Tapi ternyata film pendek karya sutradara asal Yogyakarta, Wregas Bhanuteja tersebut hanya sebagai film pembuka dari "Tiga Dara". Film yang pertama kali dirilis tahun 1956 ini sekaligus menjadi penyelamat hidup saya. 

Begini cerita lengkapnya:

Didasari karena pemberitaan media yang heboh dengan kemenangan "Prenjak" sebagai film pendek terbaik di Festival Film Cannes 2016 dan ketertarikan serta rasa penasaran yang amat besar setelah nonton trailernya, saya akhirnya ajak beberapa teman untuk nonton film ini. 

Kami pergi berempat, dua di antara teman saya ini tergolong sangat "shaleha" (cewek baik-baik, alim, nggak neko-neko, lurus-lurus aja, muslimah sejati, ngerti banget agama, selalu pakai rok dan jilbab yang menutupi dada). Nah, saya cuma bilang ke salah satu teman saya yang bukan dari kedua cewek shaleha tadi. 

"Mbak, tapi ini filmnya mungkin agak "saru", nggak papa kan?"
Buat kalian yang sudah pernah nonton "Prenjak", bisa bayangkan bagaimana awkward moment yang saya rasain waktu nonton film tersebut yang parahnya lagi kami berempat dapat bangku paling depan sendiri. 

Ketiga teman saya tadi, sudah mulai ngomel-ngomel nggak  jelas, mereka jadi salah tingkah bahkan sesekali kedengeran nyalahin saya, tatapan mereka udah nggak enak banget dilihatnya. 

Saya yakin keluar dari bioskop nanti, saya bakal jadi public enemy. Tapi beruntungnya, "Tiga Dara" menyelamatkan hidup saya. Film ini setidaknya punya durasi yang sangat panjang, komedi di sepanjang film yang bisa ditertawakan sampai keluar air mata dan lagu-lagu bernuansa jadul yang masih bisa dinikmati untuk sejenak menghapus memori mereka saat menyaksikan "Prenjak" tadi. 

Well, film hitam putih hasil restorasi ini bisa dibilang memberikan sebuah pengalaman baru bagi saya saat menyaksikan sebuah film Indonesia. Saya belum pernah sepuas ini keluar dari bioskop setelah menyaksikan film karya sineas negeri ini. 

Saya pikir, karena ini film jadul dengan dialog, wajah para aktornya, serta lagu-lagu yang dinyanyikan terlihat dan terdengar sangat ketinggalan jaman, itulah yang menjadi alasan para penonton tertawa. Tapi ternyata saya salah, setelah membaca sejumlah artikel di internet tentang film ini, "Tiga Dara" memang bergenre komedi musikal. 

"Tiga Dara" benar-benar film yang sangat menghibur, isu yang diangkat sebenarnya juga masih menjadi problematika jaman sekarang saat wanita yang sudah berkepala tiga diharapkan lekas segera melepas masa lajang oleh keluarganya. Tema keluarga yang diangkat dalam film ini benar-benar kuat (kisah tiga kakak beradik, Nunung, Nana dan Nenny dalam menemukan cinta sejati) 

Dilema yang muncul kemudian adalah tidak mudah bagi seorang wanita yang tidak pandai bergaul untuk menemukan pasangan hidup yang tepat. Saat ada seorang laki-laki yang jatuh hati, tak lantas membuatnya dengan mudah menerima cinta laki-laki tersebut. Di saat sang kakak sok jual mahal, jadilah laki-laki tersebut jatuh ke tangan sang adik yang memiliki sifat lebih agresif. Cerita cinta dalam film ini sebenarnya kompleks, tapi karena dibalut dengan komedi dan musikal membuat penonton jadi larut dengan alur ceritanya. Film ini sangat saya rekomendasikan untuk kalian tonton. Film hasil remake dari "Tiga Dara" sebenarnya juga ada, tapi saya nggak yakin akan lebih bagus dari versi aslinya.

Berkut sedikit gambaran film "Tiga Dara" sebelum dan setelah direstorasi ke resolusi 4K





Selain "Tiga Dara", ada lagi film musikal yang menurut saya jauh lebih menarik dari "La La Land". 

2. The Sound of Music (1965)

Sumber: ghk.h-cdn.co

Sama seperti "Tiga Dara", "The Sound of Music" juga masih bertema keluarga. Saya tertarik menonton film ini setelah dengan iseng nonton tayangan "Entertainment News" Net TV di YouTube. Di salah satu segmen, aktor Vino G. Bastian bercerita tentang lima film favoritnya, mulai dari "The Godfather" hingga "The Sound of Music". Karena dalam tayangan tersebut satu per satu film yang disebutkan Vino diberikan sedikit cuplikannya, saya jadi penasaran banget sama film terakhir yang disebutkan aktor "Warkop DKI Reborn" tersebut. 

Beruntung, nggak terlalu susah mencari situs streaming "The Sound of Music" di internet. Durasi film ini hampir tiga jam, tapi nggak bosen nontonnya. Meski selalu diselingi lagu, tapi saya sangat menikmati apalagi sebagian besar pemainnya adalah anak-anak. Banyak lagu-lagu yang begitu familiar seperti "Edelweiss" dan "Do Re Mi" yang ternyata memang terkenal berkat film ini. 





Saya ingat betul ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, saya senang menyanyikan lagu "Edelweiss" yang saya dengar dari salah satu ajang pencarian bakat "AFI Junior" di Indosiar. 

Film ini berkisah tentang seorang gadis bernama Maria, ia adalah calon biarawati. Di kalangan para suster, ia adalah gadis yang dikenal ceria dan sangat aktif. Sampai suatu saat suster kepala mempertanyakan kembali keinginan Maria untuk menjadi pelayan Tuhan. Suster kepala mencoba meyakinkan Maria bahwa dirinya tetap bisa mencintai dan melayani Tuhan tanpa harus menjadi seorang biarawati.

Maria kemudian dikirim ke sebuah keluarga pensiunan Kapten Angkatan Laut untuk mengurus ketujuh anak sang kapten setelah istrinya meninggal dunia. Sang kapten menerapkan kehidupan layaknya di dunia militer kepada ketujuh anaknya, hal ini bertentangan dengan hati kecil Maria. 

Maria yang mencintai musik dan senang bernyanyi membawa warna baru di kehidupan keluarga sang kapten khususnya bagi ketujuh anaknya. Maria menghidupkan kembali kehangatan dan keceriaan di tengah-tengah keluarga sang kapten. Anak-anak sang kapten menjadi memiliki waktu untuk bermain, mereka belajar bernyanyi dan bermain alat musik. 




Tidak hanya anak-anaknya yang jatuh hati pada kepribadian dan hati baik Maria, sang kapten yang hampir menikahi wanita lain akhirnya jatuh cinta pada Maria. Mereka berdua pun menikah dan hidup bahagia selamanyaaaaaaa...... 

So, sebelum kalian menyebut "La La Land" sebagai film musikal terbaik yang pernah ada, nonton dua film musikal yang sudah saya bahas dalam postingan ini dulu deh... 

No comments:

Post a Comment